Showing posts with label poems. Show all posts
Showing posts with label poems. Show all posts

Saturday, 19 May 2012

sekawan

ingatlah hari itu kawan,
hari dimana mimpi berbicara masa depan
hari dimana angin terus membawa kisah kita
meniupkan kenangan dan menyisakan senyum haru

ingatlah dan terus ingat hari itu kawan,
kita selalu bersama sejak saat itu,
entah dahsyatnya badai ataupun teriknya matahari
kalian tidak lupa kan?

kita telah mengisi penuh catatan itu,
dengan tinta cantik dan torehan yang berani
dengan kalimat berkias senda gurauan
hingga tergantikan semua kata kami menjadi kita

biarkan aral tetap ditempatnya, kita kan terus berlari
biarkan hujatan mengusik telinga, kita kan terus bersama
tunjukkan keterbatasan tak cukup kuat tuk halangi mimpi
buktikan kekurangan tak mampu menundukkan kita


dan dihari yang telah dijanjikan,
kita akan melantunkan senandung itu kembali
kita nikmati indahnya berkawan,
dan hangatnya genggaman yang menguatkan


ingatlah kemenangan kita nanti bukanlah sebuah kepuasan,
dan kekalahan kita nanti bukanlah penyesalan, hanya keputusan
apapun itu, kita akan tetap tegar berjalan
hingga dentang menyiratkan akhir sebuah hembusan


didedikasikan kepada sahabatku, TORPEDO

Thursday, 26 April 2012

langit dalam kiasan

aku inginkan bintang itu,
apalah!
sedang yang kubutuhkan cukup mentari
tak apalah.

datang saat menimbang
kala hati mengenang hari-hari yang dianggap purba
kala langit begitu indah, silih berganti mendasari fenomena
kerap memberatkan hela nafas, tatih.

pernah sekali hati ini terbuka atas kehendakku
pernah ketulusan kalahkan hati, telak.
bintang pertama kala malam.
berpandang di garis yang sama, berada di garis yang lain

pernah sekali hati ini mampu terbuka oleh untaian tua
pernah keberadaan bantu aku mengecap semua rasa, sangat nikmat.
matahari satu-satunya yang menerangi kala siang.
bergelimang rahasia, sarat perhatian


beberapa carik lain berisikan kisah indah tersimpan rapi, terkunci.
getarkan dada.
namun terlupakan semua nama, hampir semua
yang ada hanya aku.


petang menyapa, memaksa tuk memandang diantara keduanya
pandangan disematkan, menimbang.
subuh pun menyambut, memaksa tuk memilih diantara keduanya
pilihan disematkan, terus menimbang.


terkadang mendung halangi aku memandangi bintang, 
terkadang cahaya terik halangi aku memandangi mentari
apa aku harus terus mendongak ke atas?
sedangkan langkah tak tahu dimana bumi dipijak.


tempo dalam hitungan pasti berlaga dengan diri
terus menghina, terus menyeringai
menyiratkan maksud akan jawaban terbaik,
khianati hatiku sendiri.


tak pantas para penghias langit inginkan berpijak bersama disini,
dan terus mendambaku berada dalam jangkauan, takkan mampu.
berupaya tuk hindarkan aral yang akan ada di jalanmu dan bisikkan,
masih jauh tuk sampai.

Sunday, 15 April 2012

sajak hilang

kini aku kembali kehilangan
kini, kini, kini.
menangis tuk merusak siluet,
aku tetap tidak akan menangis.

salahku sejak dini
dini, dini!
langkahi anugerah dalam hidup,
tersingkap, lalu melepuh dalam genggaman.

dan cinta,
aku buta.
sudah kuulangi aku buruk.
semakin menjauh aku dari permukaan

kenapa bunga-bunga kusimpan dalam gubuk ini?
seharusnya dapat bersemi di taman kan?
tersalah, menutup tirai, menuai kabut
pekat.

dan seniman yang bersenandung di hati,
memekik!
menangis tuk merusak senandung,
aku tetap tidak akan menangis.

rujuk?
disini bertanya pantaskah maaf memaafkanku dengan maaf?
aku bahkan tak memaafkan aku
berputar, berlari, berdalihlah segala perangai

siapa yang harus kudengar?
semua bisu
bayangan tentangku tak serupa apa yang kalian bayangkan,
bunga.

kini telah kutanam bunga-bunga dari gubuk ini,
jauh, sangat jauh di taman sana
maaf.
dengan segala arti yang layak, dengan segala arti kesalahan.

kuingat hari ini,
dimana aku yang lain beranjak dari bangku goyang
dimana lembaran usang berbau takkan kuhapus dan terus kubaca,
hingga temukan kata maaf.

masa terpejam

takkan tertidur,
terkecuali dengan hasratku
salah.
terkecuali atas kehendakNya.


enggan menunggu masa itu,
dimana erangan malam semakin sendu
muram hati,
untuk apa bermimpi?


meledak udara ini,
membuat sinar meredup, berembun.
sesaat hampa,
tak ingin terpejam


aku benci buaian ini.
mimpi
seolah aku termakan diriku sendiri,
lebam dihabisi batasan, lumat dikunyah kenyataan


sampailah kedua pintu menutup fana.
mimpi
habislah nyata
entah sejak kapan, sampai kapan.


kupertaruhkan indah dan buruk,
mimpi
hingga terlupa,
telah kuletakkan jiwaku sepenuhnya


berandai-andai sesuka hati,
sayang mimpi bukanlah pilihan
jikalau dapat kupilih mimpi apa ku nanti,
pastilah segala cita tuk bermimpi


kusyukuri ini,
kunikmati segala arti sebuah mimpi
kusanggupi,
kusanggupi.


bermimpi selayak nyata, nyata selayak bermimpi
inikah surga dalam bui?
dan aku bermimpi tuk bermimpi,
hingga ku takkan bermimpi kembali.

Saturday, 7 April 2012

karam

karam,
tinggalkan sauh jauh dari pesisir ini
hujat diriku sendiri, hingga berpeluh.

dimana ini?
inikah tempat yang hendak kutuju?
apa aku harus menginjakkan kakiku di pulau ini?
tidak,
aku akan bertahan di perahu layarku ini


akankah aku bertahan di pulau ini?
sendiri.
aku tidak takut ke pulau itu!
hanya tak ingin kapal layarku ini terbawa ombak dahsyat ini
apa aku bisa tanpa kapalku?


kaki menuntun tuk menyusuri pesisir,
seiring berupaya redamkan geram akan kuterjatuh
kenapa?
karena sakit terjatuh,
dan sulit untuk kembali tegak menyusuri pesisir ini


dimana ini?
inikah tempat yang hendak kutuju?
dimana perahuku?
mengapa kutinggalkan?
lelah tuk menyusuri, lebih lelah lagi tuk kembali


enggan masuk ke hutan sana,
entah apa didalamnya
mungkin saja renggut jiwa ragaku, atau mungkin lebih?
apa salah aku hanya menyusuri pesisir ini?
akan terus kususuri, walau tak mengerti tuk apa


karam,
tinggalkan sauh jauh dari pesisir ini
hujat diriku sendiri, hingga berpeluh.

Friday, 10 June 2011

titik

untukmu,
yang terakhir itu menggugahku
sungguh.
satu utama yang sengaja diungkapkan
walaupun tak langsung, namun aku mengerti begitu jelas
gelisah mengalahkanmu.
lalu mau diapakan semua sketsa?
untuk dipelototi bayang kekalahannya?
atau untuk dikecap rasa sakitnya yang nyata?

jalan pikiran yang menggebu itu
diutarakan sudah.
mungkin itu yang membuat ini tak habis,
terus dilarutkan sesal dalam prosa sayang
mencaci diri,
lirih.

kini semua kemungkinan menampakkan bisanya.
sampai sinikah?
atau ingin terus membodohi keyakinan?
terus menulis kisah dengan bisa,
karena tak memiliki sedikitpun tinta.

kamu menjadi pelajaran terbaik,
(senyum)
bukankah aku etika itu?
kini akhirnya kamu melampaui
'bunga yang mekar merekah'
yang meniadakan rentang untuk menunggu sesaat yang lalu
dan yang terakhir terucap,
menjadikan itu pegangan
atas sebuah kemungkinan pernyataan akan usai.

dan yang terakhir itu menggugahku,
sungguh.

Tuesday, 19 April 2011

catatan malam

malam itu,
hanya malam biasa..
tetap mengingatkan dengan dinginnya,
bahwa itu hanya malam.

malam itu,
bukan ujian yang kami ingin semata,
pun bukan kemenangan diakhir saja.

malam itu,
bukan karena seorang yang kami taati alurnya,
bukan senandung lara atau sebuah cuplikan

malam itu,
kami menangis.
tak adapun sakit,
hanya kehilangan, kekhilafan, dan sesal diri terus mengemban sia-sia.

malam itu,
rahasia meluruh,
ketololan dimasa lampau meluluh,
isak tak lagi mampu lukiskan kesedihan,
sapu tangan kemarin hanya sampah ya?

malam itu,
ku tak tahu bagaimana kalian,
bagiku, ibu peran utama dalam tangisan
bagiku, kalian hanya tempatku berbuat salah,
hanya merepotkan kalian.

malam itu,
dzikir disebutkan beriring.
aku tak mampu melafalkannya bersama kalian,
dibenakku; bagaimana mungkin aku mencintai sesuatu melebihiNya yang amat mencintaiku,
amat mencintai kalian juga.

malam itu,
rasa malu kita tumpahkan..
bukan titel sebagai bocah ingusan,
namun akan diri yang selalu jatuh.

malam itu,
kujabat erat kalian saudaraku,
kupeluk dengan dengan sebenar-benarnya haru..
hati kita beradu, saling menghamba.

malam itu,
seperti senyap,
namun riuh dalam hati mandamba maaf..
akankah kami diampuni? mengapa rasa bersalah ini tak habis?

malam itu,
tangisan lirih ungkapkan jauh dari ucapan,
kuhimpun, menjadi sebuah simpulan kecil,
aku menyayangimu,
teman.




malam muhasabah, 14 April 2011, SMAN 58

Sunday, 13 March 2011

tanya

apakah sakit itu kalah?
atau segan menguak benci?
lukakah yang menepis titel?
apakah lari sebuah pilihan?
atau lemah yang dirangkul dari buaian.

benarkah salah?
atau bias dalam air menampikkan fakta?
takkan sulit sebuah pendakian,
kecuali bila hanya terus menatap jari-jari kakimu

benarkah cahaya bersinar?
bila iya mengapa tak mampu ke hati?
enggan?
kenapa hanya penat yang terus menari?

benarkah salah?
bila abu-abu diindahkan diubah perak
benarkah?
jika rasa mulai berpeluh

apakah bodoh jika ku terus bertanya?
adakah bait cinta dalam tempo-tempo yang saling berdalih?
tak selalu.
dan akan terusik dengan nyata hati yang semakin merindukan dasar
memaki akal,
saling beradu,
dan terus memaksa akal melangkahi mega

Saturday, 6 November 2010

kamu, bunga.

Kamu,
bunga,
diam.
terdiam mungkin?
kataku hanya kugenggam,
segan.
selalu saja tertegun,
bangunkan angkuh.
apa yang merasukiku?
atau perasaanku saja?
tanpa hulu,
melesak, meledak, rapuhkan relung.
aneh saja,
mengapa nikmat?
boleh kuaju pertanyaan?
apa langitmu hanya malam?
selalu begitu,
tampak statis.
kapan kau mekar?
hilangkah mataharimu?
kuingin gantikan untukmu,
begitu ingin.
tapi bisa apa?

kamu bahagia,
kamu sakit.
hingga sampai pada persimpangan.

kamu, bungaku satu.
maaf ku hanya menunggu.
bukan ku tak mampu, ku bahkan lebih.
ku tak ingin mekarmu tanpaku saja.
hingga dua benar pengganti satu,
takkan bergeming.
inikah janji?

Wednesday, 27 October 2010

secarik untukmu, yang pertama

bukan dia yang menang,
tapi kamu.
jangan berpikir seperti dia, namun pikirlah kenapa aku berkata itu.

matamu masih dapat leluasa memandang, ya kan?
biarkan hujan turun, sehingga dapat melihat langit tersenyum kembali..
berusaha melupakanmu..
tidak, bukan melupakan, namun mematikan rasa!
berat!
tanpa daya apapun yang buatku mampu.
tapi ini harus!

kamu putih, jangan menjadi hitam.
jadilah putih yang aku minta.
jadilah abu-abu untuk memahami semua.
jangan abu-abu agar semua paham.

aku ingin kamu menggenggam sendiri kenyataanmu,
buatlah..
bukan aku.
dan bukan untuk aku.

bahagialah, aku pun akan juga.
kamu cinta pertama,
kamu mimpi,
namun sungguh kusayangkan bukan terakhir.
sungguh..
kau tau?
aku mencintaimu.
kata yang sakral untukku, untuk bidadari sepertimu.
apa aku jujur? kau pasti bertanya..
aku bahkan tak mampu,
diriku pun kubohongi..
betapa sakitnya akhir untuk yang pertama.
kau pun tak akan mengerti!!
sebanyak apa rasa ini, sesakit apa,
tidak akan pernah mengerti!

harus raut apa kutunjukkan?
melihatmu saja seperti berenang dalam angan.
berenang di air mataku, air matamu.

tanya!
kuingin kau bertanya apa yang kuingin!!
bukan kita pengganti aku,
bukan kita pengganti kamu,
tapi kita untuk mereka,
dan dia.

jalanilah,
warnai langitmu dengan hiasan cerah.
ketahuilah,
rasaku takkan terhitung olehmu,
rasaku takkan pernah kau mengerti,
rasaku takkan pernah buatmu bahagia, aku buruk.
sangat..

maaf untuk awal dan akhirmu,
untuk sebuah perbedaan.
hanya sebuah!
jangan maaf padaku,
kamu tak pernah salah dimataku,
tidak pernah.

kenapa amat sakit ya?
melepasmu saja, hanya melepasmu,
tidak mampu!
hhh
terakhir,
ku mohon,
ketahuilah besar rasa ini padamu,
tulus,
dan katakan bahwa ini bukanlah cinta.